RSS

Kepekaan Jiwa Da’ie

22 Sep

Kepekaan Jiwa Da’ie (Susunan: Tim Redaksi Biro Latihan HALUAN Pusat)

pemimpinDa’ie diharapkan memiliki darjah kepekaan yang sangat tinggi dalam menyerap kepentingan, hajat dan keinginan masyarakat, terutamanya keinginan kepada keamanan dan keimanan yang kadang-kadang berlaku di luar kesedaran mereka.

Syed Qutb pernah membayangkan dirinya berada di atas bukit yang tinggi dan membayangkan masyarakat sebagai kanak-kanak yang bermain dengan pisau tajam yang akan memudharatkan diri mereka sendiri

Abbas Assisi pernah suatu hari menangis melihat ummat yang rosak dan ketika itu Imam Hassan Al Banna mengatakan padanya “Sekarang baru kamu faham makna dakwah”. Inilah hakikat dakwah yang sebenar dimana kepekaan jiwa adalah ruh yang membekalkan tenaga dan ransangan yang menghidupkannya untuk terjun ke dalam masyarakat dan bergelumang dengan penyakit-penyakit yang cuba meruntuhkan ummat.

Kepekaan jiwa inilah yang telah merasuk sanubari generasi pertama hingga mereka menjadikan dakwah sebagai kehidupan mereka dan kehidupan mereka untuk dakwah yang dengannya mereka mewaqafkan segala apa yang mereka ada sambil membaca ayat-ayat Allah SWT:

“Katakanlah: “jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan- Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (9:24).

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?  (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”(61:10-11)

Kepekaan ini akan menggerakkan jiwa Da’ie dari terus berehat. Seorang Da’ie yang peka terhadap permasalahan ummat akan merasai kepedihan dari jaluran pada luka-luka di tubuh ummat. Jiwanya gelisah dan tidak dapat memejamkan matanya ketika orang lain sedang nyenyak diulit mimpi. Apa tidaknya…setiap hari luka-luka baru menjaluri tubuh ummat sedangkan luka-luka semalam masih belum sembuh. Hati-hati ummat semakin hilang kepekaan dan sensitivitinya kepada tuntutan keimanan sedang kebendaan terus mengembalai mereka dengan penuh keangkuhan dan tak berperi kemanusiaan.

Kepekaan ini menjadikan jiwanya bergantung penuh pada rahmat dan kekuasaan Allah; munajatnya mengiringi pagi dan petangnya manakala malamnya adalah saat-saatnya tersimpuh dengan penuh tawadhu’ memohon pengampunan dan kekuatan Ilahi. Kepekaan jiwanya memancarkan satu sumber kekuatan yang menjalar melalui urat sarafnya dan berdenyut senada dengan degupan jantungnya hinggakan segala permasalahan duniawi dipandang enteng dan sedikitpun tidak mampu menghentikan langkah-langkah perjuangannya.

Umar bin al-Khattab RA selalu berjalan di malam gelap-gelita memeriksa keadaan rakyatnya. Apa yang terjadi di tengah kehidupan mereka, apa yang muncul daripada benak mereka, apa yang menjadi perbincangan utama di tengah rakyatnya. Hatinya selalu terpaut dengan hati rakyatnya, fikirannya sentiasa terkuras untuk meringankan kepedihan hati mereka. Nuraninya berusaha memberikan jalan terang bagi kegelapan rakyatnya. Umarlah yang memikul sendiri makanan untuk ibu tua miskin di malam hari. Umarlah yang merasa gelisah jika melihat orang bawahannya melakukan kesalahan dengan menggunakan kemudahan jawatan yang dia miliki. Kepekaan jiwanya memancar dan menebarkan rahmat bagi semesta.

Kepekaan Rasulullah SAW sendiri dilukiskan oleh Al-Quran dalam firman Allah berikut,

“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”. (At-Taubah:128)


Rasulullah SAW pernah suatu hari solat dalam keadaan tubuh badannya mengeluarkan bunyi geretu tulang-temulangnya, menyebabkan sahabat-sahabat lain gelisah. Selesai saja Solat, Saidina Umar terus bertanya “Ya Rasulullah SAW, adakah engkau sakit?” Jawab baginda “Tidak”. Saidina Umar bertanya lagi “Kenapa kami mendengar tulang-tulang kamu berbunyi begitu dan engkau bergerak dalam keadaan payah” Rasulullah SAW lalu mengangkat bajunya dan ditunjukkan ketul-ketul batul yang diikatkan diperutnya. Umar dengan penuh kesedihan berkata “Ya Rasulullah, adakah sekiranya kamu meminta kepada kami, kami tidak akan penuhi permintaanmu?” Jawab baginda “Bahkan kamu akan penuhi apa saja permintaan ku tetapi aku takut di Akhirat nanti aku dipersalahkan kerana membebani ummatku.”

Kepekaan harus menjadi sebahagian daripada nafas kepedulian kita, dari darah budaya kerja kita dan dari degup jantung kita. Keperihatinan yang menjadi pancaran dari untaian indah keimanan kita, bahawa “barangsiapa yang tidak peduli dengan urusan orang mukmin yang lain, maka dia bukan sebahagian daripada mereka”. Kepekaan akan menjadi sumsum yang menguatkan makna tarbiyah kita dan akan menjadi darah yang melincahkan gerak tarbiyah dan dakwah kita.

 
Leave a comment

Posted by on September 22, 2009 in Artikel, Tarbiyah

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: