RSS

Anjakan Paradigma Dari Perhimpunan Bukit Shafa

12 Nov

Semua kita membicarakan perubahan. Samada individu, organisasi, pertubuhan, kelab, persatuan, institusi, syarikat, parti politik mahupun negara. Sudah tentulah perubahan yang diingini adalah perubahan yang positif, perubahan yang membawa kepada kebaikan dan kejayaan.

Untuk melakukan perubahan memerlukan anjakan paradigma. Paradigma adalah dari perkataan Greek ‘paradeigma’, yang membawa maksud model, bentuk atau contoh. Maksud paradigma boleh diperjelaskan dengan kaedah kita melihat sesuatu situasi atau keadaan berasaskan kepada andaian umum, dan bagaimana kita boleh berjaya dalam lingkungan atau batasan yang ditetapkan.Anjakan paradigma menjuruskan kepada perpindahan dari satu situasi kepada situasi yang baru, yang melibatkan perubahan yang lebih positif.

Penulis bukanlah mahu membicarakan istilah anjakan paradigma kerana ianya telah banyak dibahaskan dan telah banya teori-teori anjakan paradigma yang diperkenalkan. Sebaliknya penulis berhajat untuk mengajak para pencinta dakwah menelusuri sirah nabawiyah dalam melakukan anjakan paradigma yang hebat dan luarbiasa sehingga hari ini kita merasai akan nikmat kehidupan sebagai muslim.

Penulis mengajak para pembaca mengimbau kembali kepada peristiwa di tengah bukit Shafa, ketika Rasulullah saw. untuk pertama kali dalam sejarah dakwah berkumpul bersama beberapa orang pilihan yang terdiri dari pelbagai lapisan usia dan berasal dari pelbagai tempat. Di antara mereka ada yang masih anak-anak, ada yang tua, ada yang muda, ada yang kaya, ada yang miskin, ada tokoh terkenal, ada orang yang tidak terkenal, ada cerdik pandai dan terdidik, ada yang ummi dan buta huruf, ada yang berstatus hamba dan ada yang berstatus sebagai orang merdeka. Secara keseluruhan jumlah mereka boleh dihitung dengan jari dan tidak lebih dari seratus orang. Baginda saw. berkumpul bersama orang-orang pilihan ini di tengah-tengah bukit Shafa, menyirami mereka dengan semangat spiritual baginda, mentarbiah mereka membaca kitab Allah yang agung, dan melantunkan ayat-ayat Allah. Dan ketahuilah, dari mereka itulah baginda melakukan anjakan paradigma membangun umat yang baru, dengan dakwah baru dan untuk dunia baru.

Persoalannya, tidak inginkah kita berada dalam kelompok di atas yang sedia melakukan anjakan paradigma yang hebat dan luarbiasa melalui pimpinan Rasulullah saw. sehingga berjaya menggegarkan dunia ini dengan kalimah tauhid? Tidak mungkinkah generasi mendidik dan berbakti yang ada ini menjadi penyambung dari kelompok terdahulu itu? Tidak mungkinkah Anda menyampaikan dakwah baru untuk membentuk sebuah kelompok baru yang menjadi batu asas bagi berdirinya sebuah dunia baru?

Rasulullah saw. bersabda:
Akan tetap ada sekelompok umatku yang muncul di atas kebenaran, yang tidak akan menjumpai bahaya dari siapa pun yang memusuhi mereka.” (Muslim)

Perhimpunan Bukit Shafa, benar-benar memberi anjakan baru kepada penulis. Mereka bersatu di sekeliling Nabi saw. Apa yang dicita-citakannya? Apa yang difikirkannya? Apa yang diinginkannya? Sampai sejauh manakah cita-cita kelompok yang mengadakan pertemuan dan pembicaraan secara sembunyi-sembunyi ini? Apakah yang diinginkan oleh orang-orang itu?

Mereka ingin menanamkan paradigma baru dalam pemikiran masyarakat, menegakkan dunia baru di muka bumi ini, dan menyusun bangunan baru dari struktur masyarakat, serta menyambung hubungan antara langit dan bumi.

Kelompok kecil yang terpisah dari masyarakat ini ingin membentangkan sistem kehidupan dan nilai-nilai kemanusiaan yang baru kepada umat manusia, dengan izin Allah. Tidak lama kemudian kelompok ini berhasil memancangkan panji-panji Allah di bumi, menyatukan hati manusia pada Tuhan manusia, menumbuhkan perasaan baru dalam hati, meletakkan kitab baru di hadapan umat manusia, dan menciptakan generasi teladan di tengah-tengah manusia, yang berhak mendapatkan sifat dan Allah swt.

Kamu adalah sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia.” (Ali Imran: 110)
Apakah kunci kekuatan sehingga mereka mampu melakukan anjakan paradigma yang hebat dan luarbiasa ini? As Syahid Iman Hasan Al Banna menjelaskan, terdapat 3 faktor utama yang menjadi landasan tertegaknya dakwah tersebut dalam jiwa kelompok generasi awal di perhimpunan Bukit Shafa. Seandainya ketiga faktor itu berhasil dibina di dalam diri dan organisasi kita sebagaimana yang telah terwujud dalam diri mereka, niscaya kita akan dibawa melangkah di jalan kemuliaan dan kemenangan, sebagaimana yang telah terjadi pada mereka.

Pertama adalah unsur keimanan yang sempurna.
Keimanan inilah yang membersihkan mereka dari keinginan apa pun selain dakwah. Mereka telah mendengarkan seruan:
Maka segeralah kembali kepada Allah.” (Adz-Dzariyat: 50)

Mereka menjadikan La ilaha Illallah sebagai slogan, pada saat yang sama mencampakkan slogan selainnya. Orang-orang musyrik berada dalam kesesatan, kerana mereka mempertuhan selain Allah. Orang-orang Parsi berada dalam kesesatan kerana mereka mengabdi kepada nafsu dan syahwat. Ahli Kitab berada dalam kesesatan kerana mereka menjadikan para pendeta dan orang-orang alim mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah.

Bumi ini secara keseluruhan berputar di atas jalur kesesatan, kerana tidak mendapatkan petunjuk dan tidak mengambil cahaya dari Allah. Sedangkan mereka berada di atas kebenaran yang nyata kerana mereka telah menghindari penyembahan kepada berhala dan hawa nafsu serta menyerahkan seluruh pengabdian kepada Allah. Mereka tidak beribadah kecuali kepada Allah, tidak patuh kecuali kepada Allah, tidak bergantung kecuali kepada Allah, tidak memohon kecuali kepada Allah, dan tidak merasakan kebahagiaan kecuali kerana berdekatan dengan Allah. Mereka tidak merasa menderita kecuali oleh dosa yang menjauhkan dari Allah.
Mereka tahu bahawa bumi ini milik Allah yang diwariskan kepada siapa saja di antara hamba-hamba-Nya yang dikehendaki-Nya dan bahawa kesudahan yang baik akan diperoleh orang-orang yang bertaqwa. Kehidupan mereka telah diwarnai dengan sibghah (celupan) Allah.
“Sibghah Allah, dan siapakah yang lebih baik sibghah-njz daripada Allah?” (Al-Baqarah: 138)

Kedua, unsur cinta, kesatuan hati, dan keterpautan jiwa.
Faktor apalagi yang mampu menjadikan mereka berselisih? Apakah mereka akan berselisih gara-gara kenikmatan dunia yang fana ataukah kerana perbezaan gaji, tugas, dan status, sedangkan mereka mengetahui bahawa,
Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” (Al-Hujurat: 13)

Jadi tidak ada faktor-faktor yang mengakibatkan mereka terpecah belah. Mereka bersatu dan bersaudara, yang satu tidak menghinakan yang lain, tetapi masing-masing mencintai saudaranya dengan sepenuh kecintaan, kecintaan yang mencapai tingkatan itsar (mengutamakan orang lain).

Dan mereka mengutamakan (orang-orang muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (Al-Hasyr: 9)
Mereka juga senantiasa menghayati firman Allah:
Katakanlah, ‘Jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khuatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan- Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (At-Taubah: 24)

Ketiga, adalah unsur keikhlasan dan pengorbanan.

Mereka telah faham semua ini, sehingga rela memberikan apa saja untuk Allah, hatta sehingga ada di antara mereka yang merasa keberatan mengambil ghanimah yang telah dihalalkan oleh Allah untuk mereka.

Maka makanlah dari sebagian rampasan perang yang telah kalian ambil itu, sebagai makanan yang halal lagi baik.” (Al-Anfal: 69)
Terhadap hal ini pun mereka merasa keberatan dan menghindari. Mereka meninggalkannya kerana mengharapkan pahala dari Allah swt. agar amal mereka tidak dikotori oleh cita-cita peribadi. Mereka melaksanakan visi dan misi dakwah dengan keikhlasan dan pengorbanan. Tidak mengharap sebarang ganjaran dunia.
Mereka sedia berkorban dalam memastikan risalah ini terus membumi sehingga berjaya mengubah aqidah umat. Anjakan paradigma mereka jelas, sehingga memberi momentum kepada perkembangan dakwah Islamiyyah.

Anjakan paradigma mereka amat kukuh. Bermula dari jiwa yang dibersihkan dengan aqidah yang benar, sehingga mereka meraih tingkatan iman yang tinggi dengan ma’rifatullah. Kemudian anjakan kesatuan hati, dari berpecah kepada ukhwah, cinta dan berkasih sayang sehingga mereka menyatu. Kemudian keikhlasan dan pengorbanan yang mendorong mereka untuk memberikan jiwa dan harta dalam rangka menggapai redha Allah, yang menyebabkan mereka tampil dalam profil seperti ini.

Faktor-faktor inilah yang telah mengeluarkan sekelompok manusia tersebut dari kehinaan kepada kemuliaan, dari perpecahan kepada kesatuan, dan dari kebodohan kepada ilmu. Mereka adalah pemberi petunjuk KPI kepada kita semua dalam menjayakan misi mendidik dan berbakti di medan dakwah yang mencabar ini.

___________________

Tulisan Mohd Razali Maarof – Ketua Biro Latihan HALUAN Malaysia. Tulisan-tulisan beliau boleh dicapai di blog Usrah Keluarga.

 
Leave a comment

Posted by on November 12, 2009 in Artikel

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: